Scroll to Top

MAU SKRIPSI CEPAT SELESAI? TIRU TULISAN ORANG!

By Ujianto Faperta / Published on Tuesday, 24 Oct 2017 05:35 AM / No Comments / 373 views

Salah satu sebab keterlambatan penyelesaian tulisan skripsi adalah karena mahasiswa kurang mampu meniru pekerjaan orang sebelumnya. Sebetulnya perkara menulis adalah perkara menjahit, kumpulkan bahan satu dengan bahan lainnya sehingga menjadi tangkupan, kaitkan tangkupan satu dengan tangkupan lain sehingga menjadi celana, misal. Pernah terlintas dalam pikiran, ‘lha kalau meniru punya orang, jiplak namanya, dan malu mengklaim sebagai milik sendiri’. Setelah dicermati dan direnungkan lebih jauh, ternyata bukan demikian. Yang dimaksud meniru adalah mengambil “bahan baku” pikiran orang sebelumnya untuk dijahit gabungkan dengan bahan lainnya sehingga menjadi produk baru yang beda dengan produk sebelumnya.. Tiru tulisan orang bukan berarti semua aspek yang dikerjakan ditiru tulisan satu orang dari pendahuluan sampai ke kesimpulan, melainkan banyak sumber sesuai sesuai dengan banyaknya cabang pekerjaan, bahkan disengaja jangan banyak banyak mengambil pada satu sumber untuk memberi ruang masuknya sumber yang lain, supaya terkesan tulisan yang dihasilkan memiliki referen yang banyak. Fungsi produksi, misal, tiru Husen Sawit, fungsi keuntungan tiru Sri Hartoyo, dll, sehingga banyak yang ditiru. Supaya tahu tulisan siapa yang ditiru, harus tahu dulu mau buat apa, celanakah, baju atau kolor. Inilah pekerjaan pertama yang harus dilakukan oleh peneliti, dan pada tahap ini biasanya alot, orang menyebutnya kelamaan shooping bahan. Kenapa itu terjadi? Karena tidak puas, banyak maunya. Ibarat ke supermarket, melihat cukur kumis elekrik tertarik, masuk troli, jalan sebentar jumpa comet, tertarik, masuk troli, jalan lagi jumpa majic jar yang bisa untuk masak agar agar, tertarik, masuk troli, dan tanpa terasa waktu terus berjalan belum mulai membuat. Pada hal yang dicari mestinya bahan baku untuk membuat. Orang yang cerdas, akan ke supermarekt dengan daftar belanjaan dan akan ketat langsung ke rak dimana barang yang dibutuhkannya berada. Sebatas itu, lalu pulang memulai membuat. Jadi kenapa kelamaan shoping? Karena tidak tahu mau shopping apa sebetulnya. Inilah penyakit yang menimpa banyak mahasiswa, termasuk penulis. Mestinya harus punya dulu daftar shopping sesuai dengan kebutuhan. Kapan daftar shopping dibuat? Idealnya selama perjalanan hidup, artinya sehari hari dalam aktifitas kajian (bacaan) akan muncul pikiran ‘kebutuhan’, segera dicatat sebagai barang untuk shopping. Setelah terkumpul mencukupi, baru ke supermarket. Jadi tidak ada pilihan lain, harus banyak baca, banyak renung agar bisa memilih dan memilah mau bikin apa, apa bahannya, bagaimana cara bikinnya. Setelah semua itu ada, baru tiru punya orang, dalam artian, caranya yang ditiru. Selamat mencoba. (kontributor, Abdullah Usman, 22/10/17

Catatan: Gagasan awal ditulis di Kyoto, 23/11/10.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *