Scroll to Top

Prilaku ekonomis dan Pembangunan Pertanian

By Ujianto Faperta / Published on Thursday, 02 Nov 2017 01:59 AM / No Comments / 675 views

Abdullah Usman

 

Banyak yang meyakini bahwa keberhasilan hidup tergantung pada faktor keberuntungan (luckiness).  Itu tidak salah, bahkan punya pijakan sakral dalam agama bahwa rezeki/keberuntungan sudah dijatah.  Pernyataan tersebut sepadan dengan pernyataan: ‘keberhasilan pembangunan pertanian banyak ditentukan oleh pasar’.  Sayangnya, pasar tidak dalam pengendalian petani.  Yang bisa dilakukan petani adalah berproduksi secara efisien sehingga berdaya saing tinggi, mampu mendapatkan akses pasar agar produk bisa laku dengan harga tinggi.

Luckiness adalah given, tidak perlu didiskusikan, letaknya di luar wadah ilmiah[1], bahkan berada di luar kemampuan individu untuk mengendalikanya.  Yang bisa dilakukan adalah optimalisasi penggunaan sumberdaya yanga ada.  Tidak ada buah-buahan yang sia sia.  Kualitas super masuk hotel dan restauran, yang kedua masuk supermarket, selanjutnya masuk pasar umum, bahkan yang busuk dicincang menjadi bahan pakan ternak, tidak ada yang sia sia[2]

Kuncinya, optimalisasi penggunaan sumberdaya.  Untuk itu perlu mengenal situasi dan aturan main.  Di kampus tidak bayar listrik, internet gratis.  Maka sebagian besar mahasiswa berlama lama di kampus agar listrik mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas kampus.

Kebanyakan figur sukses yang dijumpai memiliki sifat ekonomis.  Ambil beberapa kasus sebagai contoh.  Sepasang suami istri mahasiwa PhD, keduanya mendapatkan beasiswa Ausaid, beasiswa yang didapat berlebih untuk ukuran hidup Indonesia.  Walau berlebih, tindak lakunya sangat ekonomis. Di musim dingin (winter), mereka menampung panas yang menyebar saat masak dengan kompor gas untuk memanaskan ruangan sehingga irit lestrik untuk heater.[3]  Kerak nasi yang kebanyakan ibu rumahtangga dibuang, direndam air panas dan mencukupi untuk jatah sekali makan[4].  Beras di Jepang mahal, atasi dengan mengurangi beli beras, kebutuhan karbohidrat disubstitusi dengan kentang, labu, roti dan buah yang relatif lebih murah[5].

Bagaimana membangun individu (building capacity) yang berkarakter ekonomis, inilah tantangan hakiki pembangunan SDM.  Karakter ekonomis, populer dengan istilah bermental wirausaha (enterpreuneur), walaupun masih banyak lagi mental lain yang harus dimiliki jika terjun di dunia wirausaha, termasuk berani menghadapi risiko dan ulet bekerja tanpa kenal menyerah.  Menerima risiko, bukan tindakan membabi buta, punya perhitungan.  Orang judipun berhitung melakukan pemasangan nomor, indikasi tidak hantam kromo menghadapi risiko[6]

Prilaku ekonomis dan efisien tidak harus menunggu jadi pengusaha dulu baru diterapkan, justru lebih banyak peluangnya dalam kehidupan sehari hari.  Prinsipnya dua: maksimisasi keuntungan (yang favourable), dan minimisasi biaya/risk (yang unfavourable).  Merokok, misal, mubajir atau justru mendongkrak produktivitas menuju maksimisasi?  Bisa diidentifikasi faktor positif dan negatifnya, biasanya spesifik individulistis.  Karenanya, tidak pas mengecap orang merokok ‘membakar uang’.  Mungkin individu tersebut, justru menghasilkan banyak uang.  Yang penting sudah benar dalam menilai, jangan parsial, tidak saja jangka pendek tetapi juga jangka panjang mempertimbangkan keseimbangan semua komponen.  Tidak saja kenikmatan pribadi, tetapi juga kenyamanan lingkungan.  (kontribusi Abdullah Usman, 01/11/2017).

 

[1] Sekelompok masyarakat mempercayai kalau pesugih bisa menjinakan faktor luckiness menjadi miliknya, sehingga ada yang pergi ke Gunung Kidul dan sejenisnya untuk mendapatkan jimat/mantra pesugihan.

[1] Donny W.  2010.   Kata Kunci Menjadi Tukang Buah, upload Milis SOSEK82

[1] Pengamatan di Latrobe Melbourne, 1996.  Figure tersebut sudah menjadi Profesor dan Rektor.

[1] Tukar pengalaman dengan Salvador, Mahasiswa JICA 2010, asal Timor Leste, di desk tgl 26/12/2010

[1] Hal ini berlaku bagi individu yang manis air liurnya, sehuingga makan apa saja dinikmatinya.

[1] Zaini, A.  2007.  Menanggapi konsep risk saat Kolokium di Darmaga Bogor.

[1] Sekelompok masyarakat mempercayai kalau pesugih bisa menjinakan faktor luckiness menjadi miliknya, sehingga ada yang pergi ke Gunung Kidul dan sejenisnya untuk mendapatkan jimat/mantra pesugihan.

[2] Donny W.  2010.   Kata Kunci Menjadi Tukang Buah, upload Milis SOSEK82

[3] Pengamatan di Latrobe Melbourne, 1996.  Figure tersebut sudah menjadi Profesor dan Rektor.

[4] Tukar pengalaman dengan Salvador, Mahasiswa JICA 2010, asal Timor Leste, di desk tgl 26/12/2010

[5] Hal ini berlaku bagi individu yang manis air liurnya, sehuingga makan apa saja dinikmatinya.

[6] Zaini, A.  2007.  Menanggapi konsep risk saat Kolokium di Darmaga Bogor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *