Scroll to Top

Lokomotif Mutu Akademik

By Ujianto Faperta / Published on Friday, 10 Nov 2017 03:25 AM / No Comments / 274 views

Setiap hari ada saja pekerjaan yang dilakukan, bahkan tidak cukup waktu untuk  santai, karena kejar setoran (deadline).  Setiap orang terdorong untuk  melakukan suatu kegiatan kalau diyakininya kegiatan itu berguna (bagi dirinya dan orang lain).  Semakin besar ekspektasi manfaat makin kuat dorongannya.  Manfaat yang paling besar adalah manfaat yang berdimensi dunia dan akhirat, berarti kegiatan tersebut masuk ke ranah ibadah.

Amalan baru tercatat bernilai ibadah kalau dilakukan dengan niat.  Si Fulan ke masjid untuk  sholat berjamaah lima waktu, misal, maka dia akan tercatat dan mendapat pahala sholat berjamaah di masjid, karena dia niat dan sadar kalau ke masjidnya itu adalah untuk  sholat berjamaah.  Pekerjaan yang sama, yaitu sholat berjamaah tersebut, akan diperoleh nilai manfaat tambahan kalau diniatkan juga untuk  i’tiqaf di masjid.  Nilai tambah ini tidak didapat, kalau tidak memasang niat i’tiqaf.  Nashnya ‘Innamal amalu bin niat’, sesungguhnya amal (akan tercatat) kalau diawali dengan niat.   Sebagai ilustrai: ada tukang ojek online, dimintai pelanggan antar ke stasion kereta Juanda.  Tukang ojek itu bertanya balik ke pelanggan, bagaimana jalurnya menuju ke sana?  Pelanggan merasa janggal, mestinya tukang ojek itulah yang lebih tahu routenya.  Pelanggan bertanya, bapak niat nggak sih menjadi tukang ojek?  Dari ilustrasi tersebut, tersirat makna bahwa dengan niat maka pelaku akan memberikan pelayanan (karya) dengan mutu yang terbaik.

Apa niatnya agar pekerjaan akademik yang dilakukan di kampus bernilai ibadah?  Membuat POB, menyelesaiakan RPS, RTM, bagaimana niatnya agar bernilai ibadah?  Pertama pahami dulu manfaat pekerjaan itu, lalu cari posisi manfaat pekerjaan tersebut dalam bingkai ibadah?  Dari situ bisa dirumuskan niatnya.  Semakin tajam dan fokus niat, semakin dahsyat pengaruhnya.  Pekerjaan dilakukan tidak sebatas ritual formalitas, menggugurkan kewajiban.  Pekerjaan yang tidak diniat, cenderung tidak punya roh.  Kalau ada niat, inshaAllah kegiatan akan jalan dan memuaskan.

POB, misal, disusun sebagai acuan (rambu rambu) kegiatan.  Pelaku atau calon pelaku menjadi tahu apa yang harus dilakukan, agar pekerjaan itu menjadi lebih efisien dan efektif, lebih barokah.  Ujung ujungnya, rumusannya adalah menjalankan semua perintah, dan meninggalkan semua larangan, alias taqwa.  Yang dilakukan oleh pikiran ini adalah menumbuhkan kesadaran dan pemahaman bagaimana pekerjaan yang dilakukan itu dalam kontek perintah dan larangan.  Kalau perintah, perintah yang mana, kalau larangan, larangan yang mana.  Mekanisme transmisinya melalui perintah amal makruf nahi anil munkar, berfastabikul khairat.

Jadi, Apa niat menyusun POB agar bernilai ibadah? Niatkan melakukan pekerjaan ini, untuk  menjadi acuan, agar kegiatan bejalan efisien dan efektif penuh barokah sesuai dengan perintah khairan katsiro (berbuat baik yang banyak), dan berfastabikul khairat.  Karena niatnya untuk  efisien dan efektif,  maka pikiran dikerahkan seoptimal mungkin, do your best.  Memang, Tidak semua hal mampu terpikirkan saat itu, namun hasilkan karya berdasarkan ramuan yang terbaik berdasarkan kemampuan pikiran saat itu.  Bila besok ditemukan ada cara yang lebih baik, maka lakukan revisi, selalu berusaha memperbaiki (prinsip Kaizen).  Semoga berguna  Thu, 09/11/17, kontributor: Abdullah Usman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *