Scroll to Top

MANAJEMEN WAKTU: TELAT SKRIPSI KARENA JAGA IBU YANG SAKIT?

By Ujianto Faperta / Published on Wednesday, 27 Dec 2017 05:47 AM / Comments Off on MANAJEMEN WAKTU: TELAT SKRIPSI KARENA JAGA IBU YANG SAKIT? / 423 views

Oleh Abdullah Usman

Ada Mahasiswa memerlukan tiga semester untuk menyelesaikan proposal penelitian skripsi. ‘Kenapa lama’, tanya Kaprodi saat tanda tangan proposal. Salah satu alasannya adalah bahwa dia kena musibah, ibunya sakit, diopname 10 hari. Alasan ini kurang kuat. Tiga semester adalah 3×6 bulan=18 bulan x 30 hari=540 hari – 10 hari di opname, masih sisa 530 hari. Apa yang dilakukan?
Banyak orang yang tetap produktif walau bepergian pada banyak tempat, super sibuk. Di ruang tunggu, menulis; saat di atas pesawat, menulis; bahkan tulisannya itu sempat dipostingnya ke media, sehingga koleganya tahu dimana posisinya dan apa yang dikerjakannya. Manajemen waktunya, produktif dan efisien. Mahasiswa yang menjaga ibunya di Rumah Sakit, bukan menjadi alasan untuk tidak produktif. Apa yang dilakukan dalam masa penjagaan? Paling urus administrasi, pergi legalisir surat ke kantor BPJS, duduk antri berjam jam, misal. Saat menunggu giliran dilayani BPJS, produktifkan waktu. Membaca, menelaah, menulis, sebanyak waktu yang tersedia. Duduk bengong, tidak ada kegiatan, membosankan. Demikian juga di Rumah Sakit, layani tuntun pasien ke toilet, misal, paling 10-15 menit; intinya ada waktu luang yang bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan skripsi. Karena itu alasan sakit ibu penyebab telat skripsi, terbantah.
Mahasiswa lain, lama selesaikan skripsi karena sambil kerja. Alasan bekerja untuk meringankan beban finansial orang tua. Benarkah anak yang sambil bekerja meringankan beban orang tua? Kalau sambil bekerja menyebabkan telat selesai, apalagi sampai DO (naudzubillah min dzaalik), jauh panggang dari api. Malah jalan yang ditempuh itu, menghancurkan impian orang tua untuk melihat anaknya jadi sarjana. Bukan berarti Mahasiswa tidak boleh kuliah sambil kerja. Pertimbangkan manfaat mudoratnya. Dari sisi finansial, misal, berapa gaji yang didapat per bulan? Jika lantaran kerja, lalu harus perpanjang satu semester, sepadankah pendapat dari kerja itu menutup pengeluaran (SPP, kontrak, biaya hidup) selama satu semester perpanjangan tadi? Maunya meringakan beban orang tua, kenyatannya sebaliknya, membuat orang tua semakin terbebani. Niatnya baik, namun karena salah baca situasi keh