Scroll to Top

PEMBIMBING DISPUTE, MAHASISWA BINGUNG: SEBUAH SOLUSI

By Ujianto Faperta / Published on Friday, 05 Jan 2018 00:53 AM / No Comments / 390 views

Oleh: Abdullah Usman
Adalah lumrah kalau tejadi beda pendapat. Latar belakang keilmuan, minat dan interest merupakan faktor yang mempengaruhinya. Tugas akhir tesis dan skripsi adalah seutuhnya karya Mahasiswa, dibawah bimbingan dosen. Tidak jarang terjadi pembimbing satu berbeda fokus dengan pembimbing lainnya, yang menyebabkan Mahasiswa bingung. Solusinya secara melembaga membentuk unit tim komisi untuk memecahkan masalah dispute. Namun secara substansi bisa dilakukan dengan memahami apa sumber dispute, apakah bersifat substantif atau dikarenakan oleh gagal komunikasi. Seringkali terjadi masalah muncul karena salah paham, padahal maksudnya sama. Kalaupun berbeda, akan lebih mudah diselaraskan, asal sudah dipahami substansi masalah.
Ada kasus penelitian tentang penilaian petani terhadap teknologi. Mahasiswa membangun variabel dependen (Y) yang menggambarkan kemampuan petani menilai teknologi yang diukur dengan skor; skor Y dibangun dari komponen teknologi, lalu variabel Y itu di kaji faktor apa saja yang mempengaruhinya sebagai variabel independen (X). Dimasukannya sejumlah variabel sosial ekonomi sebagai variabel X. Apakah logis tingkat pendidikan responden misal, mempengaruhi kelayakan teknologi? Teknologi adalah suatu hal yang terpisah, tidak akan berubah walaupun berhadapan dengan responden yang berbeda tingkat pendidikan. Yang bisa berbeda adalah persepsi responden terhadap teknologi. Persespsi dipengaruhi oleh latar belakang Sosek masing masing.
Setelah dicermati lebih dalam, kasus di atas menjadi logis jika variabel X (variabel sosek) tersebut mempengaruhi kemampuan petani menilai teknologi. Responden dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, tidak serta merta memberikan nilai yang tinggi pada teknologi yang bersangkutan. Jika memang teknologi jelek, maka akan rendah nilainya dan enggan untuk diadop. Jadi teknologi tetap seperti apa adanya, tidak lantas berubah karena berubah responden yang menilai. Kalaupun terjadi perbedaan dalam menilai itu menunjukan berbedanya tingkat kemampuan petani dalam menilai, dan itulah yang mau dikaji.
Agar variabel Y tersebut menggambarkan kemampuan petani menilai teknologi, maka harus ada standar sebagai pembanding. Lama rakit teknologi, misal stadarnya dua hari, lalu petani responden menjawab 5 hari, ini bisa menjadi indikator rendahnya kemampuan petani menilai aspek tersebut.
Kalau petani sudah memiliki kemampuan yang tinggi dalam menilai teknologi, maka bukan salah petani kalau mereka tidak mengadop teknologi, karena teknologinya itu sendiri yang bermasalah. (Mataram, Thu, 04/01/18)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *