Scroll to Top

Membangun sistem kerja yang partisipatif

By Ujianto Faperta / Published on Thursday, 19 Jul 2018 03:34 AM / No Comments / 70 views

Hari ini kamis, 19/07/18, seleksi mandiri Mahasiswa baru sedang berlangsung. Semua panitia UAS kebagian mengawas, kesekretariatan panitia UAS sepi. Ada soal yang blm selesai digandakan, satu soal untuk sembilan kelas, multiple choice 10 halaman. Penggandaan dengan fotocopy sudah dilakukan, sortir dan staples itu yang menantang, karena harus dilakukan secara manual. Kalau saja soal masuk tiga hari sebelumnya, ceritanya beda. Nasib panitia yang menjadi sarang tudingan kenapa panitia ditugaskan mengawas seleksi mandir, jadinya tidak standby, panitia yang salah….tantangan bersama, bagaimana mengundang partisipasi sehingga sistem yang dibangun berjalan mulus.

Secara teknis manajerial, instrumen yang dibangun sudah memadai, sudah mampu megupdate data soal masuk secara efisien tanpa melakukan chek opname seperti cara lama, asal instrumen kendali itu diisi secara tekun. Angka doble tagih juga menurun, walau masih satu dua kali terulang karena salah satu oknum panitia tidak taat azas, sehingga soal masuk tidak dikomunikasikan ke panitia inti.

Ada pertanyaan yang muncul, kenapa pekerjaan klasik ini masih terulang masalah yang sama? Ya tagih soal, ya pengawas, dan nanti maslah nilai masuk….ada yang menjawab, karena law enforcement lemah. Kenapa? Secara teknik Administratif memadai. Tata tertib dibuat, surat himauan dikeluarkan, bahkan sampai pinalti nilai Mhs diberi B semua bagi mata kuliah yang telat masuk nilainya.

Insentif finansial yang kurangkah? Ada gaji, ada tunjangan sertifikasi, ada tunjangan remunerasi, kurang apa.

Motivasi yang rendahkah? Tidak bekerja kalau tidak ada manfaatnya. Setuju, itu benar. Untuk apa bekerja kalau tidak ada manfaatnya. Yang menarik adalah cara mengukur manfaat, umumnya secara tangible saja, lupa yang intangible. Kalau tidak ada coin, ogah. Mestinya kerja secara ikhlas itu hendaknya dipandang sebagai piknik sejati, seperti falsafah Sayyidatina Ali. Tidak ada yang disia-siakan, walau amal itu kecil sekali, sebesar biji jarah, tetap ada ganjarannya.

Lalu kenapa tidak berkarya? Mungkin karena tidak yakin dengan ganjaran intangible yang dijanjikan. Pahala, ketenangan, kesehatan, kenyamanan, kaya hati adalah bentuk ganjaran intangible. Singkatnya, iman pada yang ghoib masih lemah, belum mampu menggerakkan lokomotif untuk berkarya. Duhai iman, datanglah, hinggaplah bersemayam di dada ini. Semoga bermnfaat. (si sela kegiatan mengawas, Rabu, 18/07/18, Abdullah Usman).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *