Scroll to Top

FROM WORK HARD TO WORK SMART

By Ujianto Faperta / Published on Tuesday, 23 Oct 2018 05:17 AM / No Comments / 83 views


From work hard to work smart;
Banyak faktor yang bisa dibangun untuk menumbuhkan budaya dan etos kerja yang kondusive. Indikator kondusive katakanlah cepat dan nyaman dengan mutu standar. Suatu waktu, seorang staf diminta untuk menyiapkan Daftar Isi buku kumpulan absen 2018, misal. Pekerjaan itu, ukurannya selesai dalam waktu tidak sampai sejam. Kenyataan sampai semiggu belum selesai. Daftar isi, mestinya tidak perlu diketik ulang melainkan menyortir data pada file agenda surat sesuai dengan materi surat yang mau dijilid. Katakanlah yang mau dijilid adalah surat periode Januari– Juni 2018 misal, maka disort dan dicopy entitis yang sesuai dengan periode tersebut, tidak perlu di ketik ulang.
Alasan kedua, adalah karena urutan surat yang disimpan di arsip tidak konsisten, sehingga perlu di sortir ulang agar urutannya menjadi konsisten sesuai dengan Kronologis masuknya surat, atau keluarnya surat. Kalau saja sejak awal sudah dibiasakan surat itu disimpan sesuai dengan urutan waktu, maka tidak perlu tambahan pekerjaan tersebut. Akhirnya kelihatannya sibuk, tapi hasilnya nihil. Mestinya acuan kerja sekarang bergeser dari work hard, ke work smart.
Menata file, menata surat, kedengarannya sepele, tidak perlu sekolah tinggi untuk melakukan itu, namun tidak jarang kegagalan terjadi dikarenakan oleh hal yang sepele tersebut. Tidak ada staples bisa menyebakan gagalnya proposal dikirim. Karena itu, membangun skill dan iklim kerja yang kondusive, menjadi habit dan kebutuhan lembaga pendidikan tinggi yang mau menghasilkan lulusan berdaya-saing. Kenyataannya, bisnis as usual masih mewarnai derap kerja lembaga. Kenapa tidak move on? Jawabannya komplek. Isnentif yang kurang? Mungkin, namun tidak selalu. Ada tulisan serdos for nothing mengungkapkan bahwa insentif finansial tidak selamanya efektif. Perlu rekayasa teknik sosial yang pas untuk menggerakkan staf berproduksi optimal. Semoga tetap istiqomah. (kontributor: Abdullah Usman, 23/10/18)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *