Scroll to Top

Unram kukuhkan 3 Guru Besar

By Ujianto Faperta / Published on Wednesday, 25 Sep 2019 00:14 AM / No Comments / 154 views


Mataram, Universitas Mataram – Universitas Mataram (Unram) kukuhkan tiga guru besar yakni Prof. Dr. Eng. I Gede Pasek Suta Wijaya, ST., MT. (Guru Besar Bidang Teknik Informatika pada Fakultas Teknik), Prof. Dr. Muhlis H. Usman, M.Si. (Guru Besar Bidang Biologi pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) dan Prof. Dr. Ir. A. Farid Hemon, M.Sc (Guru Besar Bidang Pertanian pada Fakultas Pertanian) bertempat di ruang Sidang Senat Unram, Senin (23/9).

Tiga orang guru besar sebelumnya juga telah dikukuhkan oleh Unram pada Kamis, (20/6) lalu yakni Prof. Dr. Hj. RR. Titiek Herwanti, Dra., M.Si. (Guru Besar Ilmu Ekonomi Islam pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis), Prof. Dr. H. Salim HS, SH, MS. (Guru Besar Hukum Perdata pada Fakultas Hukum), dan Prof. Dr. H. A. Wahab Jufri, M.Sc. (Guru Besar Pendidikan Biologi pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan).

Dalam pidato pengukuhan yang berjudul “Kecerdasan Buatan untuk Sistem Mitigasi Bencana Kegempaan Cerdas Terpadu” Prof. Pasek menjelaskan bahwa saat ini perkembangan teknologi informasi dan komputasi yang begitu pesat mendorong penerapan kecerdasan buatan menjadi relatif lebih mudah. Mengingat dunia telah mengalami revolusi industri 4.0 maka teknologi kecerdasan buatan dapat dijadikan sebagai tool untuk memanipulasi, prediksi dan menganalisa datanya.

Oleh sebab itu, mengingat Indonesia sebagai negara dengan potensi gempa bumi yang tinggi karena berada di daerah cincin api dan pertemuan tiga lempeng dunia, maka sudah seharusnya memiliki sistem penanggulangan kebencanaan cerdas terpadu berbasis TIK dan teknologi kecerdasan buatan akan lebih memudahkan dalam proses penanggulangan dan pemulihannya.

“Teknologi kecerdasan buatan CNN merupakan suatu model yang sangat potensial untuk diterapkan pada salah satu sistem penanggulangan bencana gempa bumi khususnya untuk sistem penilaian kelayakan bangunan” jelas Prof. Pasek.

Lebih jauh Prof. Pasek menjelaskan bahwa di masa depan Indonesia akan memerlukan sistem mitigasi bencana kegempaan cerdas terpadu yang melibatkan teknologi kecerdasan buatan, untuk mendukung pemangku kepentingan dalam menjalankan tugas penanggulangan bencana akibat gempa.

Sementara itu, Prof. Muhlis yang merupakan Guru Besar Bidang Biologi dalam pidatonya mengungkapkan bahwa masih banyak potensi sumber daya alam khususnya di laut yang belum diketahui dan dieksplorasi akibatnya masih banyak yang belum dikelola dan dimanfaatkan dengan optimal. Termasuk di dalamnya adalah pengelolaan dan pemanfaatan terumbu karang.

Prof. Muhlis menjelaskan bahwa kondisi terumbu karang dapat dilihat dari berbagai aspek, antara lain dari aspek persen tutupan karang, aspek indeks kematian karang, aspek struktur bentuk pertumbuhan karang dan aspek laju pertumbuhan kerangka karang.

“Kondisi terumbu karang pada perairan wisata bahari Gili Trawangan pada aspek pertumbuhan karang, indeks kematian dan kondisi oseanografi berada pada kondisi baik, sedangkan pada aspek persen tutupan karang kondisinya jelek dan sedang ” jelas Prof. Muhlis.

Prof. Muhlis menambahkan bahwa salah satu usaha untuk mempertahankan keberadaan terumbu karang di areal tersebut adalah dengan memperbaiki keberadaan substrat tempat penempelan planula karang dan tempat penempelan pertumbuhan karang, yaitu merehabilitasi habitat terumbu karang dengan teknologi terumbu buatan.

Prof. Dr. Ir. A. Farid Hemon, M.Sc yang mendapatkan kesempatan terakhir saat menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul “Pengelolaan Genetik Tanaman untuk Menghadapi Cekaman Lingkungan pada Perubahan Iklim dalam Upaya Penyediaan Pangan” menerangkan bahwa saat ini, permasalahan perubahan iklim telah menjadi pembatas produksi pangan dan menjadi kekhawatiran untuk ketahanan pangan terutama untuk negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Guru Besar bidang Pertanian itu juga menjelaskan bahwa upaya mitigasi perubahan iklim untuk mempertahankan atau meningkatkan produksi pangan dapat dilakukan dengan pengelolaan genetik melalui perakitan gen-gen secara hibridisasi gamet, teknik seluler, mutasi atau molekuler melalui manipulasi DNA.

“Fakultas Pertanian Unram telah melakukan beberapa penelitian untuk merakit gen-gen untuk mengatasi perubahan iklim dengan memproduksi galur-galur tanaman padi, kacang tanah, kedelai dan beberapa tanaman hortikultura” Ungkap Prof. Farid.

Prof. Farid juga menambahkan bahwa upaya mengatasi perubahan iklim jangka panjang juga sangat memerlukan regulasi pemerintah dan kebijakan politik untuk membentuk gene bank/gene pool di masing-masing kabupaten kota sebagai sumber plasma nutfah untuk perakitan gen adaptasi lingkungan spesifik.

Rektor Unram, Prof. Dr. Lalu Husni, SH., M.Hum saat memberikan sambutan menyatakan bahwa menjadi Guru Besar tidaklah mudah. Setelah menjadi guru besar pun tugas yang diemban tidaklah ringan. Sebab guru besar dituntut untuk membuat publikasi internasional setiap tiga tahun atau publikasi nasional pada setiap tahunnya. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk tidak berkarya.

Prof. Husni berpesan agar dengan pengukuhan guru besar ini kinerja Unram khususnya di bidang riset dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) menjadi baik dan meningkat sebab hal tersebut menjadi indikator dalam perenkingan perguruan tinggi.

“Saya berharap guru besar dapat menjadi sumber inspirasi bagi bapak/ibu dosen sehingga dapat tercipta suasana akademik yang kondusif untuk mencapai visi misi yang telah dicanangkan” tutur Prof. Husni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *